Saya mengelus telapak tangannya lembut. Mencoba memberinya ketabahan. Lalu saya bilang, mengapa kita tak belajar kepada daun yang tetap bermanfaat bagi kehidupan kendati ia telah rontok ke tanah.
"Daun?" tanya Rini.
"Ya, daun...," jawab saya.
"Daun..., akulah itu daun yang kini dimakan ulat, meranggas pelan-pelan sebelum akhirnya mengelinting kering."
"Semua orang juga akan kering mengelinting."
"Tapi tidak seperti aku."
"Ah, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok."
"Maksudmu?"
"Kenapa kita memikirkan sesuatu yang sungguh mati bukan urusan kita."
"Lantas?"
"Menjadi daun itulah maksudku. Tak soal dimakan ulat atau diserang hama lainnya, toh ketika rontok, lantas jadi humus, ia bermanfaat bagi tanah yang menumbuhkan kehidupan bagi tanaman."
Rini diam sejenak. Matanya menerawang jauh entah ke mana. Tapi pelan-pelan senyumnya terbit dari bibirnya yang tipis.
"Kenapa?" saya bertanya.
"Aku sedang berpikir," sahut Rini.
"Memikirkan suamimu?"
Rini menggeleng.
"Memikirkankan ketemu pelawak?"
Rini mencibir. Lalu, dengan senyum dikulum ia berkata, "Aku sedang berpikir mau jadi daun apa."
"Semua daun bermanfaat," kata saya.
Rini tiba-tiba bangkit. Masih dengan senyum di kulum, pelan-pelan ia melangkah menuju halaman yang ditumbuhi rumput dan aneka tumbuhan.
Rini terus berjalan. Mendadak ia menghilang di balik semak-semak tanaman sirih. Lima detik tak saya dengar suara Rini. Sambil berjalan mendekati tempat persembunyiannya, saya memanggil namanya.
"Rini..., Rini... di mana kamu?"
Tak ada jawaban.
"Rin..."
"Aku di sini."
"Ngapain kamu di situ?"
"Aku sedang belajar jadi daun."
Saat saya jumpai Rini, ia sedang telentang di atas rumputan sambil memejamkan mata. Dari mulutnya tersungging senyuman yang menyejukkan. Amat damai...sangat damai. Ah..., barangkali ia tengah membayangkan, dirinya telah sempurna menjelma daun.
jodhi yudono
jodhi@kompas.com
7.03.2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment